Minggu, 15 Maret 2009

5 tangga kepimpinan ala Nabi Muhammad SAW (dikutip dari buku ESQ for Teens 2)

1. Pemimpin yang dicintai
Kamu bisa mencintai orang lain tanpa memimpin mereka, tetapi kamu nggak bisa memimpin orang lain tanpa mencintai mereka. Pernyataan ini menggambarkan gimana seorang pemimpin harus mampu berhubungan (menjalin hubungan) baik dengan orang lain. Seorang pemimpin nggak bisa hanya nunjukin prestasi kerjanya doang, tapi ia harus mencintai dan dicintai orang lain. Tangga ini nggak boleh diloncati, jika diloncatimaka orang lain nggak akan mendukungmu, karena mereka nggak menyukaimu.
Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang dicintai. Nappa hayyo ??
Point pentingnya adalah keteladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. Hak setiap orang ditunaikan. Pandangannya kepada orang yang lemah, yatim piatu, fakir miskin adalah pandangn seorang bapak yang penuh kasih sayang, lemah lembut, juga mesra. Sikap ini yang membuat Nabi Muhammad SAW berhasil menapaki tangga kepimpinan yang dicintai.
“ Kasihanilah mereka yang ada di bumi niscaya yang dilangit akan mehasihi kamu.” (HR. Tirmizi)
2. Pemimpin yang Dipercaya
Seseorang yang mempunyai integritas tinggi adalah orang yang penuh keberanian dan berusaha tanpa kenal putus asa meraih apa yang dicita-citakannya yang mendorong dirinya untuk tetap konsisten dengan langkahnya. Integritas akan membuatmu dipercaya dan kepercayaan ini akan membuahkan pengikut. Inilah tangga kepemimpinan yang kedua. Setelah mecapai landasan sebagai pemimpin yang dicintai, maka tingkat kedua adalah integritas yang menciptakan kepercayaan.
Setelah mendapat wahyu dari Allah SWT di Gua Hira, Nabi Muhammad SAW bingung siapa yang akan diajak untuk mengikuti jejaknya. Kemudian Nabi Muhammad mengajak istrinya Khodijah untuk memeluk agama Islam. Apakah Istrinya, Khodijah percaya dengan yang disampaikan Nabi Muhammad ?? Yup, Khodijah percaya karena Nabi Muhammad SAW selalu berkata jujur dan tidak pernah berbohong sedikitpun sehingga ia mendapat julukan Al Amin.
Inilah contoh seorang pemimpin sejati yang memiliki prinsip dan integritas sehingga mampu menciptakan pengaruh dan kepercayaan yang luar biasa dari pengikutnya. Semoga kita mengikuti jejak Rasulullah yang tetap konsisten untuk terus berjuang, dan menolak tawaran setan dengan cara mempesona. Inilah contoh seorang pemimpin yang dipercaya karena memiliki integritas.

3. Pembimbing
Pemimpin yang berhasil bukanlah dinilai dari luasnya kekuasaan yang dimiliki tapi lebih karena kemampuannya memberi motivasi dan kekuatan kepada orang lain. Dia bisa bisa dikatakan gagal kalau nggak memiliki penerus. Pada tangga inilah puncak loyalitas penerusnya akan terbentuk. Siapa yang tidak kenal dengan penerus perjuangan Rasulullah atau kadernya Rasulullah yang bernama Ibu Bakar As Shiddiq, Umar Bin Khatab, Usman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, Bilal, Hamzah, dan masih banyak lagi sahabat yang langsung mendapat bimbingan dari Rasulullah.
Suatu hari ketika Perang Badar tengah berkecamuk, saat itu pasukan Rasulullah berjumlah 300 orang. Sementara unta yang ada hanya 100 ekor, sehingga 1 ekor unta harus digunakan bertiga. Tahukah kamu, Nabi Muhammad SAW yang saat itu adalah seorang pemimpin, mau berganti dengan 2 sahabat lainnya. Kadang Nabi Muhammad Saw diatas unta, kadang di bawah untuk menuntun unta. Nabi Muhammad SAW bukan hanya membimbing, tapi juga memberi contoh atas apa yang ia sampaikan.
Rasulullah sering memberi nasehat, petunjuk, dan contoh kepada para sahabatnya untuk membimbing mereka meraih kebahagiaan. Semua nasehat itu, contoh-contoh perilaku Rasulullah SAW diabadikan oleh salah seorang sahabatnya, Abu Hurairah R.A hingga saat ini, pemikiran itu tetap abadi dan terdelegasikan. Kita semua bisa memperoleh bimbingannya, meski lebih dari 14 abad saat beliau Saw. wafat inilah contoh bimbingan dan metode pendelegasiaan yang sempurna dari Nabi kita yang mulia hingga pengaruh bimbingannya masih tetap kuat hingga kini.
4. Pemimpin yang Berkepribadian
Harry S. Truman pernah berkata , “Disiplin pribadi (diri sendiri) adlah suatu hal yang datang lebih dulu. Pemimpin tidak akan berhasil memimpin orang lain jika ia belum berhasil memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus mampu dan berhasil menjelajahi dirinya sendiri, mengenal secara mendalam siapa diri sebenarnya. Sebelum ia memimpin keluar, ia harus lebih dulu memimpin ke dalam.
Ada seorang raja yang bernama Frederick Agung, Raja dari Prusia berjalan-jalan di pinggiran kota Berlin. Ia bertemu dengan seorang laki-laki tua yang sedang berjalan ke arahnya, kemudian ia betanya :
“Kau siapa ?” tanya Frederick Raja Persia.
“Saya Raja!” jawab sang laki-laki tua.
“Raja!” Frederick tertawa.
“Atas kerajaan mana kau memerintah?”
“Atas diri saya sendiri,” jawab laki-laki tua itu dengan bangga.
Pekerjaan inilah yang sesungguhnya paling berat, memimpin diri sendiri melawan hawa nafsu adalah refleksi kedisiplinan diri. Disiplin diri adalah gimana mencari apa yang sungguh-sungguh diharapkan dengan tidak melakukan hal-hal yang nggak diinginkan. Musuh yang paling dekat adalah diri sendiri, dan seorang pemimpin harus mengenali siapa lawan dan kawan termasuk dalam dirinya sendiri.
Seusai Perang Badar Nabi Muhammad SAW mengatakan sebuah pesan yang sangat terkenal pada sahabatnya, “Kita baru saja menghadapi peperangan yang berat, dan peperangan yang sangat berat itu sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu yang ada dalam dirinya sendiri.”

5. Pemimpin Abadi
Ajaran Nabi Muhammad SAW mencakup intelektualm emosional, dan spiritual. Prinsipnya adalah mengarahkan orang pada kebenaran, kebaikan, kemajuan, dan keberhasilan. Metodenya adalah metode terbaik yang pernah ada di muka bumi, khisisnya di bidang kepemimpinan dan akhlak.
Semua terasa sesuai dengan suara hati, cocok dengan martabat kehormatan manusia, sekaligus membersihkan belenggu yang bikin orang jadi buta, hingga sesungguhnya titel mahaguru dari kecerdasan emosi/EQ – yang saat ini diakui lebih penting dari IQ, disematkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW sudah semakin tua dan ia merasa bahwa ajalnya sudah semakin dekat. Kemudian ia mengumpulkan para sahabatnya dan berkata, “duhai sahabatku, aku merasa ajalku sudah semakin dekat, dan aku tak ingin membawa dosa ketika menghadapi Allah SWT. Untuk itu, aku ingin bertanya kepada kalian, adakah di antara kalian yang pernah aku sakiti?”
Para sahabat terdiam, namun tiba-tiba ada salah seorang sahabtnya yang bernama Ukasah mengacungkan jarinya dan berkata, “Aku ya Rasulullah.” Para sagabah marah melihat Ukasah begitu kurang ajar kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi Nabi Muhammad berkata, “Biarkan dia membalas apa yang pernah aku lakukan padanya, Ukasah katakan apa yang pernah kulakukan padamu?” Ukasah menjawab, “Dulu ya Rasulullah ketika engkau akan memukul untamu, tanpa sengaja cambukmu mengenai punggungku”.
Nabi Muhammad SAW kemudian meminta Bilal untuk mengambil dan memberikan cambuknya kepada Ukasah. Kemudian Nabi Muhammad SAW berkata, “Silahkan memukul punggungku.”
Bayangkan seoramg Nabi yang di jamin masuk syurga, masih bertanya, “Siapa yang pernah aku sakiti?” Inilah tingkat kepemimpinan tertinggi-pemimpin abadi- yang cara berpikir dan pengaruhnya terus tersebar hingga akhir zaman. Inilah dasar tang telah diletakkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam membangun peradaban baru, peradaban yang sesuai dengan fitrah manusia.
Rasulullah berhasil mencapai puncak tangga tertinggi kepemimpinannya, ia berhasil memimpin dunia dengan suara hatinya, dan diikuti pula oleh suara hati pengikutnya. Ia bukan hanya seorang pemimpin manusia, tetapi ia adalah pemimpin segenap hati manusia. Subhanallah..

2 komentar:

  1. ALLAHU AKBAR smoga yang akan memumpin bangsa indonesia menggikuti suri tauladan nabi Muhammad SAW...amin.

    BalasHapus
  2. Semoga kita semua yg beragama Islam Khususnya, benar2 bisa memahami bagaimana seharusnya menjadi pemimpin , Diri sendiri, Keluarga dan masyarakat ( Ya TUHAN aku mohon berikan ilmu yang berguna Amin.. )

    BalasHapus